Performa Corcomm Operator Telekomunikasi di Indonesia

Corporate Communication adalah salah satu ujung tombak terpenting perusahaan, utamanya yang bergerak di bidang layanan jasa, seperti telekomunikasi. Merekalah yang menyampaikan pesan penting dari perusahaan kepada khalayak.

Karena menyangkut hajat hidup orang banyak, liputan media terhadap operator telekomunikasi di Indonesia cukup tinggi sepanjang semester pertama 2017. Ekspos media didorong oleh banyak isu, di antaranya:

  • Network Sharing
  • Bisnis Digital
  • Lelang Frekuensi 2.100 MHz dan 2.300 MHz
  • Tarif Internet
  • Layanan 4G
  • Peretasan website Indosat

Operator yang mendapat panggung paling besar adalah Telkomsel, yang notabene juga memiliki jumlah pelanggan terbesar di Indonesia. Menyusul di bawahnya adalah XL, Indosat, Smartfren, dan Tri Indonesia.

Sebagian besar pemberitaan terkait Telkomsel cenderung positif dan menyangkut kegiatan-kegiatan perusahaan, seperti promosi, TheNextDev Academy, Traktir Nasional, Upgrade BTS dan lain sebagainya.

Hal ini tak terlepas dari kepiawaian tim Corporate Communication Telkomsel di bawah komando Adita Irawati. Selain rutin menyebarkan informasi positif mengenai perusahaan, Telkomsel juga cepat dan tepat merespons isu negatif. Contoh paling nyata adalah ihwal pembobolan situs Telkomsel oleh peretas yang tak puas pada skema tarif data, dan wacana Network Sharing yang pada kenyataannya menempatkan perusahaan ini berdiri sendiri melawan semua operator lain.

Dalam kasus peretasan situs, misalnya, Adita dengan cepat merilis pernyataan resmi, yang disusul pejelasan lebih lengkap oleh Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah. Hal semacam ini tak terjadi di Indosat, yang mana kasus peretasan website mereka justru berdampak negatif terhadap perusahaan.

Kinerja Corcomm yang baik juga membuat pernyataan Ririek paling banyak dikutip media dibanding semua CEO operator telekomunikasi lainnya. Pesaing terdekat Ririek bukanlah koleganya sesama CEO, melainkan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. Ini mengindikasikan bahwa pengelolaan arus informasi di Telkomsel lebih tertata rapi dan disiplin mengikuti model standar komunikasi korporat. Model standar itu, mengacu pada defenisi seperti dikutip dari Harvard Business Review, “top executives and professional communicators monopolize the creation of content and keep a tight rein on what people write or say on official company channels.”

Penampilan Adita yang bisa berbicara mewakili beragam topik mengenai bisnis Telkomsel juga membuat popularitasnya menjulang tinggi di media.

Kebijakan semacam ini tak terjadi di operator lain.  XL Axiata, misalnya, memiliki pintu informasi lebih banyak, termasuk para eksekutifnya: Allan Bonke, Yessie D. Yosetya, dan Eka B. Danuwirana. Adapun Divisi Corporate Communation XL, yang tadinya digawangi Turina Farouk dan kini beralih ke Tri Wahyuningsih lebih banyak berperan sebagai perantara antara para eksekutif dengan media massa. Artinya, Tri Wahyuningsih yang akrab disapa Ayu, jarang mengeluarkan pernyataan mewakili korporat kepada media.

Keleluasaan kewenangan Adita merupakan kemewahan tersendiri yang tak dimiliki rekan sejawatnya di operator lain, termasuk Deva Rachman di Indosat, Arum K. Prasodjo di Tri Indonesia, dan Ciba Gangga di Smartfren. Hal ini wajar saja karena masing-masing perusahaan tentu memiliki kebijakan masing-masing. Khusus untuk Ciba Gangga, perannya sebagai juru bicara korporat terlihat sangat minim karena petinggi Smartfren lebih memilih berbicara langsung kepada media.

Berdasarkan pemantauan kami di pemberitaan media online periode 1 Januari 2017 – 17 Juli 2017, pernyataan Adita dimuat dalam 671 berita, jauh lebih banyak dibandingkan Deva Rachman (142), Ayu (108), Arum (14), dan Ciba (9). Adita berbicara mengenai beragam isu dan sangat aktif menetralisir isu negatif.

Jumlah pernyataan Adita di media pada periode itu mencapai 1.651, di bawah jumlah pernyataan Ririek sebanyak 1.992. Sementara CEO Indosat, Alexander Rusli mencapai 1.246, sangat njomplang dengan Deva Rachman yang hanya 343. Gambar di bawah ini menunjukkan media yang paling sering memberitakan masing-masing pejabat Corcomm.

Bagaimana dengan Ayu? Mengingat jabatannya yang relatif baru, sangat wajar jika Ayu tak banyak dikutip media. Pernyataan pendahulunya, Turina Farouk, dimuat sebanyak 97. Adapun CEO XL, Dian Siswarini, membuat pernyataan sebanyak 973 kali. Yang cukup menonjol mewakili XL saat ini adalah Yessie D Yosetya. Sementara Smartfren diwakili oleh Derrick Surya.

Kebijakan Corporate Communication Telkomsel bisa jadi tak ideal diterapkan di semua operator. Meski begitu, satu hal yang jelas berdampak positif bagi perusahaan ini adalah kecepatan dan ketetapan mereka dalam merespons isu negatif. Mereka juga sukses menyiarkan berita-berita positif perusahaan.

Kombinasi apik ini juga membuat sosok Adita Irawati seperti berada pada level yang berbeda dengan rekan-rekan sejawatnya di operator lain. Berikut peta persebaran pernyataan Adita di berbagai media di seluruh Indonesia.

2 Replies to “Performa Corcomm Operator Telekomunikasi di Indonesia”

  1. nice sharing, sangat aktual lenglap denga case nya , bisa menjadi lesson learned buat para punggawa PR yg kita semakin strategis posisinya dalan sebuah korporasi..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *